top of page

Pieter Mulier Tinggalkan Alaïa, Spekulasi Rumah Mode Berikutnya di Tengah Reshuffle Industri Fashion

Kepergian Pieter Mulier dari Alaïa bukan sekadar pergantian kursi kreatif, tapi sinyal besar akan pergeseran kekuatan di industri fashion global.

Pieter Mulier, desainer asal Belgia yang dikenal dengan pendekatan arsitektural dan presisi tinggi, resmi mengumumkan kepergiannya dari Alaïa pada 30 Januari 2026. Setelah lima tahun memimpin rumah mode legendaris tersebut, Mulier akan mempersembahkan koleksi terakhirnya pada Paris Fashion Week Maret 2026 sebelum posisi creative director diisi sementara oleh studio internal Alaïa. Pengumuman ini langsung menjadi perbincangan hangat di industri fashion global.



Di bawah kepemimpinan Mulier, Alaïa mencatat pertumbuhan signifikan dengan peningkatan revenue hingga 52% pada 2024. Ia berhasil memodernisasi warisan Azzedine Alaïa tanpa menghilangkan DNA utamanya—siluet body-conscious, craft tingkat tinggi, dan sensualitas yang tenang. Pendekatan ini membuat Alaïa tetap relevan di tengah industri yang semakin didominasi tren cepat dan viral moments.


Secara estetika, Pieter Mulier dikenal sebagai desainer dengan pendekatan “quiet power”. Latar belakangnya di bidang arsitektur membentuk cara berpikir yang struktural, di mana desain dibangun dari fondasi siluet hingga detail akhir. Knitwear kompleks, leatherwork presisi, serta perpaduan ready-to-wear dan couture dalam satu narasi retail menjadi ciri khas karyanya. Ia kerap memulai desain dari profil samping untuk menekankan volume dan gerak, menghasilkan sensualitas yang subtil namun kuat.



Sebelum memimpin Alaïa, Mulier menghabiskan hampir dua dekade sebagai tangan kanan Raf Simons. Kariernya dimulai sebagai intern di label Raf Simons pada 2001, lalu berkembang menjadi head designer menswear. Ia mengikuti Raf ke berbagai rumah mode besar seperti Jil Sander, Dior—di mana ia terlibat langsung dalam couture dan ready-to-wear—hingga Calvin Klein sebagai global creative director. Pengalaman lintas brand ini membekali Mulier dengan kemampuan menerjemahkan visi konseptual menjadi produk yang skalabel dan komersial.


Seiring kepergiannya dari Alaïa, spekulasi mengenai langkah berikutnya pun bermunculan. Nama Versace menjadi rumor terkuat, terutama setelah akuisisi brand tersebut oleh Prada Group pada akhir 2025. Kedekatan profesional Mulier dengan Raf Simons membuat skenario ini terasa masuk akal. Jika bergabung, Versace berpotensi bergerak ke arah estetika yang lebih presisi dan arsitektural—tetap sensual, namun dengan kontrol dan kedewasaan baru.



Opsi lain yang juga dibicarakan, meski lebih spekulatif, adalah Carven dan Helmut Lang. Carven menawarkan peluang revitalisasi femininity Prancis yang lebih modern dan wearable, sementara Helmut Lang membuka kemungkinan eksplorasi minimalisme urban dengan sentuhan tailoring yang lebih sculptural. Meski demikian, kedua opsi ini masih bersifat hipotetis dan belum didukung rumor kuat seperti Versace.



Di tengah gelombang reshuffle creative director yang terus terjadi di industri fashion 2026, kepergian Pieter Mulier dari Alaïa menandai akhir sebuah era sekaligus awal babak baru. Ke manapun ia berlabuh, satu hal yang pasti: Mulier akan membawa pendekatan desain yang berfokus pada craft, struktur, dan visi jangka panjang—bukan sekadar sensasi sesaat. Industri kini hanya tinggal menunggu konfirmasi resmi atas langkah berikutnya.

info@mysite.com
123-456-7890
500 Terry Francois Street,
San Francisco, CA 94158

porto1.png
  • Instagram
  • TikTok
  • Youtube
bottom of page